Bakmi Mbah Noto : Sejumput Kehangatan di Gunungkidul

Bus yang saya tumpangi berhenti di pinggiran jalan utama Kabupaten Gunungkidul, di Jl. Jogja-Wonosari tepatnya. Malam itu saya bersama rombongan peserta Jelajah Gizi memiliki agenda untuk makan malam di sebuah kedai bakmi. Konon, bakmi di kedai tersebut yang terhaujek di Gunungkidul. Dimana sih?! Di Kedai Bakmi Mbah Noto.

Di seberang jalan nampak sebuah kedai sederhana yang ramai pengunjung. Beberapa kendaraan bermotor, baik roda dua ataupun roda empat berjajar di depan kedai. Tidak ada yang istimewa jika melihat bentuk bangunannya, bertipikal sama seperti warung rakyat pinggir jalan lain, yang terkesan “ndeso” dan sedikit “amburadul”. Pemilik kedai tersebut memilih “numpang” di pelataran rumah berhalaman sedikit luas. Cukup untuk menampung tiga buah gerobak kayu, dipan untuk lesehan, beberapa meja kayu panjang serta pengunjung.

Semakin mendekat, saya bisa membaca beberapa menu yang menjadi andalan kedai yang buka setiap hari mulai jam 2 siang sampai jam 12 malam ini. Sebut saja bakmi godhog, bakmi goreng, magelangan, ayam bakar dan ayam goreng. Minumannya ada teh poci, es teh, es jeruk dan beberapa minuman standar sebuah warung makan.

Satu hal yang unik di tempat ini, bapak penjual masih menggunakan tungku kecil yang berbahan bakar arang untuk memasak setiap masakan pesanan pengunjung. Daaannn… Sekali masak hanya untuk satu sampai dua porsi saja meeennn…!! Buset! Gak kebayang kan gimana kalo pengunjung rame?! Ya mau gak mau kamu harus bersabar yak, hehehe… Memang butuh perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang enyak-enyak, hahaha… Mungkin cara memasak seperti itu untuk menjaga cita rasa masing-masing porsi. Jadi gak terkesan sembrono dengan memasak langsung semua pesanan yang sejenis.

Beruntung saya sedang ikut trip yang terorganisir secara profesional. Jadi ketika perut lapar, masakan sudah tersaji di hadapan. Panitia sudah bertanya ke seluruh peserta apa pesanan mereka ketika bus sedang melaju menuju Bakmi Mbah Noto dari penginapan. Mau mie godhog atau mie goreng?! Tinggal jawab…

Karena mie goreng menurut saya sudah umum, hampir di semua rumah makan menyediakan menu itu, maka pilihan saya jatuh ke mie godhog seharga Rp 8.000. Rasanya gimana?! Hmmm… Yummy!! Sepiring mie rebus berkuah kuning telur tersaji di hadapan disertai dengan uap panas yang masih mengepul ke udara. Aroma telur dan seledri menyebar ke segala penjuru kedai. Kuahnya sedikit kental terkena campuran telur yang diorak-arik ketika memasak. Mie yang gak terlalu lembek, rasa gurih dan kesegaran daun seledri terasa di lidah. Bener-bener makanan yang pas dinikmati ketika dingin malam menerpa. Di dalamnya saya melihat ada mie kuning yang dicampur dengan bihun, orak-arik telur, daun seledri, kubis, suwiran ayam dan taburan bawang goreng. Suwiran ayamnyapun empuk lho, gak keras seperti kebanyakan warung makan…

Cuma makan itu ndre?! Iya sih, tapi saya sempet mencicipi ayam goreng pesanan temen. Begh, ayamnya coooyyy…. Bikin mata merem melek! Hahaha… Sumpeh enak banget! Ayam kampung yang dibumbu bacem kemudian digoreng menciptakan cita rasa tersendiri. Manis sih pasti ya, karena olahan bacem. Lainnya, bumbunya meresap jauh ke dalam daging yang terasa lembut dan juicy di lidah. Gak pake berantem deh makan ayam goreng di Bakmi Mbah Noto ini dan gak bakal rugi memesan ayam goreng yang dibandrol dengan harga Rp 17.000 ini, karena rasanya bener-bener worth it dengan uang yang kamu bayar. Denger slentingan temen, sambal koreknya juga nampol! Sayang, waktu itu saya tidak mencicipinya…

Teh poci menjadi teman menyantap seporsi bakmi godhog ketika itu.

Secangkir teh dengan gula batu di dalamnya bersanding dengan sebuah teko kecil yang terbuat dari seng berwarna ijo loreng-loreng, perkakas jaman dulu banget yes?! Aroma teh begitu pekat menusuk hidung. Ternyata, di dalam teko, mereka menggunakan daun teh kering yang dirajang kasar. Apakah itu penyebabnya?! Saya kurang begitu paham, yang penting aromanya unik. Harganya?! Cuma Rp 3.000…

Nah, walaupun di daerah Jogja banyak lesehan yang menyajikan mie godhog sebagai jualan utama, sebagian besar penjualnya berasal dari Kabupaten Gunungkidul sini. Jadi, Bakmi Mbah Noto ini wajib masuk ke dalam list perjalananmu mengeskplor kekayaan Gunungkidul. Salam kuliner!

 

KEDAI BAKMI MBAH NOTO

Jl. Jogja-Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta

Jam operasional 14.00 – 24.00 WIB

Tags: , ,

Author:Andreas Setiawan

Seorang finance staff di sebuah main dealer motor Jepang berlogo garpu tala untuk wilayah Jawa Timur dan Lombok yang memiliki hobi backpacking dan berwisata kuliner. Kini dia bergabung dalam komunitas CouchSurfing, sebuah komunitas backpacking internasional untuk bertemu orang lokal ketika ngetrip serta bertukar budaya dan belajar kearifan lokal. Ikuti pengalaman ngetrip dan wisata kulinernya hanya di www.andrelanjalan.com

2 Responses to “Bakmi Mbah Noto : Sejumput Kehangatan di Gunungkidul”

  1. November 13, 2012 at 10:43 PM #

    Kalau ga salah gw pernah makan ini di Bintaro. cuma, ga enak :(

    • November 23, 2012 at 6:54 PM #

      serius warung ini buka cabang di Bintaro?1 Mungkin hanya penamanaan yang dibuat sama…

Leave a Reply