7 Makanan Kreatif ++ Dari Gunungkidul

*Juara ke-2 Artikel Terbaik “Jelajah Gizi” Sari Husada 2012

Gunungkidul, sebuah kabupaten di Selatan Yogyakarta adalah kawasan yang telah dihuni manusia sejak kurang lebih 700 ribu tahun yang lalu. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis terutama di Kecamatan Ponjong. Ketika itu, manusia purba kebanyakan menetap di dalam goa. Ya, keadaan geologis Gunungkidul sebagian besar adalah perbukitan dan pegunungan kapur, yang merupakan bagian dari Pegunungan Sewu, dengan banyak goa di dalamnya.

Wilayah karst sangat identik dengan minimnya ketersediaan air. Begitu juga kondisi alam di Gunungkidul. Di kabupaten dengan ibukota Wonosari ini, air menjadi sesuatu yang sangat mewah, apalagi ketika memasuki musim kemarau. Sering terjadi bencana kekeringan yang panjang.

Tanah yang berkapur dan jarangnya mata air, membuat masyarakat Gunungkidul hidup dalam kesusahan. Menanam padi yang menjadi bahan makanan pokokpun sangat susah dilakukan. Tanahnya tidak bagus untuk menanam padi. Jenis tanah yang kering hanya cocok ditanami umbi-umbian semacam singkong, talas, ketela ataupun padi jenis gogo yang ditanam di ladang dan hanya mengandalkan curahan air hujan.

Keadaan yang sulit dan terjepit itulah yang membuat masyarakat Gunungkidul mau tidak mau harus bertindak kreatif

Mereka memanfaatkan segala keterbatasan sumber daya alam untuk menyambung kehidupan. Salah satunya mengolah singkong dan lainnya untuk dijadikan bahan makanan pokok pengganti nasi. Namun siapa sangka, berbagai sumber makanan pengganti itu mempunyai nilai gizi yang baik, bahkan setara dengan sumber makanan pokok di daerah subur. Oh, God is good! Dia tak akan membiarkan umatnya hidup dalam kesengsaraan.

Untuk membuktikan semua itu, weekend lalu saya menghabiskan waktu di Gunungkidul, mengikuti program Jelajah Gizi yang diselenggarakan oleh Sari Husada. Disana saya beserta beberapa teman blogger dan media diajak untuk lebih mengenal panganan alternatif yang ada di Gunungkidul. Bersama seorang ahli gizi dari IPB, Prof. Dr. Ahmad Sulaiman, kami mendapat penjelasan akan kandungan gizi setiap makanan. Inilah tujuh makanan hasil olahan kreatif warga Gunungkidul yang saya temui. Tidak hanya rasanya yang lezat, namun makanan-makanan ini mengandung berbagai gizi yang bermanfaat bagi tubuh, cekidot…

1. Thiwul dan Gathot

Thiwul

Thiwul dan gathot adalah hasil olahan dari gaplek, singkong yang dikeringkan secara alami dengan bantuan sinar matahari. Seperti yang kalian tahu, singkong banyak dibudidayakan oleh masyarakat Gunungkidul dan dijadikan makanan pokok pengganti nasi. Tanah Gunungkidul yang kering memungkinkan tanaman umbi-umbian tumbuh subur. Nah, kedua makanan ini sudah terbukti mampu mengeluarkan masyarakat Gunungkidul dari kelaparan di musim kemarau. Karena gaplek dapat disimpan dalam kurun waktu yang lama dan dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai makanan, seperti gathot dan thiwul ini.

Selain itu kedua makanan ini mengandung gizi yang baik bagi tubuh. Di dalam thiwul terkandung karbohidrat yang menjadi sumber energi bagi tubuh. Gathot bagaimana?! Gathot lebih beragam lagi kandungan gizinya. Karena melewati proses fermentasi, pada gathot tumbuh bakteri lactobacillus yang tergolong bakteri prebiotik, baik untuk pencernaan. Selain itu, masih terdapat karbohidrat, protein dan vitamin B.

Gathot, berasal dari kata “Gagal Total” :D

Kini, thiwul dan gathot telah dimodifikasi sedemikian rupa, ditambahkan gula merah, parutan kelapa dan rasa lainnya seperti nangka dan jahe. Bahkan bisa dibawa pulang sebagai buah tangan dari Gunungkidul dalam bentuk instan.

2. Nasi Merah

Nasi merah merupakan padi jenis gogo yang tumbuh di ladang. Menanamnyapun tergantung musim penghujan. Mengingat di Gunungkidul ini jarang ada sawah, maka masyarakat menanam beras merah sebagai pengganti nasi. Nah, nasi merah di Gunungkidul ini jarang disemprot dengan bahan kimia, jadi bisa dikatakan organic by nature. Pengolahannyapun tergolong unik. Sebelum ditanak, berasnya hanya ditumbuk, bukan digiling. Hal itu menyebabkan masih tersisa kulit ari yang mengandung serat dua kali lipat dari beras putih. Di dalamnya juga terdapat lemak esensial, zat besi, tiamin (vitamin B1) yang baik untuk kesehatan otak, selenium dan protein.

Warna merahnya berasal dari pigmen antioksidan yang dipercaya mampu mencegah oksidasi asam lemak, sehingga mampu menurunkan kolesterol. Selain itu, nasi merah juga memiliki indeks glikemiks rendah (<55) yang cocok dikonsumsi penderita diabetes dan juga bagus untuk MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu).

Yang paling menarik dari penjelasan profesor adalah karena mengandung selenium dan protein, nasi merah diduga mampu mengurangi tingginya angka bunuh diri dan penyakit jiwa di Gunungkidul. HAH?! Ya, sudah menjadi rahasia umum jika di Gunungkidul banyak ditemukan kasus bunuh diri dan menurut teman baru saya yang berasal dari kabupaten ini juga banyak orang gila yang dibuang di hutan! Wew… Serius?! Yes! Adanya selenium dan protein digunakan tubuh untuk membantu metabolisme karbohidrat dan jika kekurangan itu akan menyebabkan seseorang menjadi depresi!

3. Sayur Lombok Ijo

Dikala masyarakat daerah lain menggunakan cabe hijau hanya sebagai bahan pelengkap masakan, tidak demikian dengan masyarakat Gunungkidul. Mereka mengolah cabe hijau menjadi sejenis masakan bersantan yang sangat cocok dinikmati dengan nasi merah. Cabe hijau diiris menyamping dan dijadikan bahan utama dalam membuat masakan ini, bersanding dengan tempe dan pete. Tidak heran, karena banyak terdapat ladang, cabe hijau menjadi salah satu komoditas Gunungkidul. Cabe hijau sendiri dipercaya mengandung zat antioksidan yang berfungsi menjaga tubuh dari serangan radikal bebas, Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat antikanker serta kandungan vitamin C yang tinggi.

4. Belalang Goreng

Di Gunungkidul, selain banyak ladang, juga banyak pohon jati. Nah, belalang biasanya hidup di kedua ekosistem tersebut. Dari sana, masyarakat Gunungkidul biasa mengkonsumsi belalang untuk memenuhi kebutuhan proteinnya. Iiiuuuwww…! Eits, jangan underestimate dulu terhadap belalang. Salah satu jenis insect ini mengandung beberapa zat yang diperlukan tubuh. Diantaranya adalah protein dan vitamin. Bahkan kandungan vitamin kulit belalang setara dengan udang lho…

5. Ice cream telo ungu

Seperti yang saya sebutkan di atas, masyarakat Gunungkidul itu adalah masyarakat yang kreatif. Karena adanya keterbatasan bahan pangan, membuat mereka berpikir lebih untuk menghasilkan berbagai varian makanan dari bahan yang tersedia dan mudah tumbuh disana.

Seperti ketika berkunjung ke Desa Sambirejo, masyarakat disana menanam ubi jalar di halaman rumahnya. Ubi jalar ungu khususnya. Menurut si profesor yang demen ngebanyol ini, ubi jalar ungu mengandung protein dan provitamin A, kaya serat, zat besi, betakaroten, vitamin C, mengandung probiotik dan berindeks glikemiks rendah.

Karena bosan mengkonsumsi ubi jalar rebus, mereka berinisiatif mengolah ubi jalar menjadi ice cream! Ya, homemade ice cream. Karena ada santan di dalamnya, kandungan gizinya juga otomatis bertambah. Ternyata santan dapat membantu proses konversi betakaroten menjadi vitamin A.

6. Lemper Talas

Lain Desa Sambirejo, lain pula Desa Bobung. Di desa wisata penghasil topeng kayu ini, masyarakat mengolah talas menjadi lemper. FYI, di dalam talas terkandung karbohidrat, prebiotik yang bagus untuk penceranaan, rendah lemak, rendah protein dan indeks glikemiks yang rendah. Setelah diolah menjadi lemper, rasanyapun lebih nikmat…

7. Keripik Rumput Laut

Tidak hanya memiliki wilayah daratan, namun Kabupaten Gunungkidul memiliki puluhan pantai cantik yang kini mulai menjadi primadona para penikmat jalan-jalan. Ketika rombongan saya berkunjung ke Pantai Indrayanti, salah satu pantai berpasir putih disana, saya menemui beberapa penjual keripik rumput laut keliling.  Mereka menjajakan cemilan itu di kisaran Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per bungkus.

Bahan dasar rumput laut tersebut diambil langsung dari pantai-pantai disana. Ketika surut, Pantai Indrayanti contohnya, akan nampak hamparan hijau rumput laut. Disana, jenis rumput lautnya seperti daun, bukan batang seperti yang saya pernah saya lihat dan makan sebelumnya. Karena jumlahnya yang melimpah, maka masyarakat berpikiran kreatif untuk mengolahnya menjadi cemilan dan menjualnya, menjadi tambahan pemasukan tersendiri.

Menurut info, rumput laut mengandung karbohidrat, protein, lemak, serat, beberapa enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin dan beberapa zat berguna lainnya. Manfaatnyapun beragam, mulai mencegah kanker karena mengandung serat, selenium dan seng. Sampai mencegah gejala osteoporosis karena terdapat kalsium.

 ***

Nah, sudah terbukti kan?! Di saat berada di kondisi yang tertekan dan harus bertahan hidup, kita bisa mengusahakan apa saja, termasuk mengolah segala keterbatasan bahan panganan menjadi sesuatu yang bernilai tambah. Seorang sahabat bercerita kepada saya, walaupun kini pemerintah sudah mengupayakan adanya aliran air bersih dan sebagian masyarakat mulai menanam serta mengkonsumsi beras putih, namun mereka tetap mempertahankan tradisi dengan mengkonsumsi singkong dan mengolahnya secara tradisional.

Masyarakat Gunungkidul adalah masyarakat yang kreatif dan terbukti mampu bertahan di tengah keterbatasan. Salut!

Tags: , ,

Author:Andreas Setiawan

Seorang finance staff di sebuah main dealer motor Jepang berlogo garpu tala untuk wilayah Jawa Timur dan Lombok yang memiliki hobi backpacking dan berwisata kuliner. Kini dia bergabung dalam komunitas CouchSurfing, sebuah komunitas backpacking internasional untuk bertemu orang lokal ketika ngetrip serta bertukar budaya dan belajar kearifan lokal. Ikuti pengalaman ngetrip dan wisata kulinernya hanya di www.andrelanjalan.com

5 Responses to “7 Makanan Kreatif ++ Dari Gunungkidul”

  1. November 9, 2012 at 6:56 AM #

    kalo belalang rasanya sama kaya udang yah katanya ? bener gak sih ?

  2. November 12, 2012 at 2:50 PM #

    Wuih mantap mantap tapi secara pribadi yang bisa gue artikan kreatif itu ice cream telo sama kripik rumput laut.

    thiwul gatot sudah jadi makanan rakyat di hampir seluruh pulau jawa, nasi merah ya begitulah, sayur lombok ijo hmm tau gak di lamongan adaloh tumisan lombok ijo tok tanpa tahu dan lauk apapun. belalang goreng umum mah haha… lemper talas juga pernah tau dimana gitu…

    nice

  3. November 13, 2012 at 10:36 PM #

    itu makanan sehat semuaaaaaaaaa. gw suka. eh, ga deng. belalangnya kurang suka gw

    • November 23, 2012 at 6:54 PM #

      kenapa?! Geli yak?! Sama kek sebagian peserta Jelajah Gizi waktu itu :D

Leave a Reply