Rujak Kuah Pindang : Unpopular Balinese Cuisine

Bali, sebuah destinasi wisata favorit jutaan orang memang memiliki pesona yang luar biasa. Tidak hanya pemandangan alamnya yang menawan, namun Bali juga menyuguhkan berbagai macam hiburan serta kuliner.

Bosan dengan kuliner Bali yang itu-itu saja?! Lawar, ayam betutu, babi guling, nasi campur, sate lilit ataupun ares. Nah, kalau begitu, mungkin kamu perlu mencoba kuliner yang satu ini, rujak kuah pindang dan bulung sebutannya. Menurut saya pribadi, kedua jenis makanan tersebut adalah kuliner yang terlupakan bagi para pelancong yang berkunjung ke Bali. Kepopulerannya jauh berada di bawah deretan makanan yang saya sebut di atas.

***

Siang itu, selepas dari daerah Kuta, saya dan seorang travelmate mengarahkan motor ke arah Denpasar. GPS sudah diseting untuk menunjukkan arah menuju ke Jl. Bukit Tunggal. Konon, disana ada seorang penjual rujak kuah pindang yang legendaris.

Jalanan beraspal itu mulai menyempit saat kami memasuki daerah Bukit Tunggal. Matahari Bali yang menyengat kulitpun dengan setianya mengiringi laju motor berlogo garpu tala kami. Celingak-celinguk mencari depot atau semacamnya yang bertuliskan “rujak kuah pindang” pun menjadi kegiatan yang menyusahkan. Tidak ada satupun dari deretan bangunan di sepanjang jalan yang memampang tulisan tersebut.

Well, karena ingin mempersingkat waktu, sayapun menghentikan laju motor, berhenti di  sebuah rumah berarsitektur Bali dengan deretan motor yang terparkir di depannya. Saat itu, saya bertanya kepada seorang tukang parkir setengah baya. “Pak, mau nanya, di daerah sini yang jual rujak kuah pindang sebelah mana ya?!”. Bapak itupun sempat tersenyum, kemudian menjawab, “Disini mas…”, sambil menunjuk ke belakang tubuhnya. “HAAHH…??!”, sayapun tertawa. Ternyata bangunan dimana saya menghentikan motor itu adalah tempat yang saya cari-cari!

Rumah berlantai dua dengan gerbang bercorak Bali itu ternyata menjual rujak kuah pindang. Memang tidak ada tulisan apapun di bagian luar. Saya baru menemui spanduk kecil bertuliskan “Warung Rujak Gelogor” di bagian dalam, setelah memasuki gerbang. Lho, katanya rujak kuah pindang, tapi kok mampir di warung rujak gelogor?! Kata si ibu penjual sih, gelogor hanya nama saja…

Saya melihat tumpukan berbagai macam buah-buahan di warung itu. Ada belimbing, jambu air, nanas, kedondong, mangga muda dan sebagainya. Di sebelahnya juga tak kalah tinggi, susunan bahan-bahan pelengkap. Memang, warung ini sekilas nampak awut-awutan. Namun, itu bukanlah masalah bagi saya pribadi. Yang penting bisa mencicipi kuliner yang hanya ada di Bali ini.

Saat itu saya memesan dua porsi rujak kuah pindang, seporsi bulung dan dua teh botol beraroma melati. Gak lama menunggu, pesanan saya sudah tersaji di atas meja. Btw, apa sih rujak kuah pindang itu sebenernya?! Rujak kuah pindang adalah rujak buah khas Bali. Komposisinya beraneka macam irisan buah-buahan. Saya menemui mangga muda, jambu air, bengkuang, nanas, ketimun dan kedondong. Semuanya diiris tipis dan disiram dengan kuah. Nah, kuah inilah yang istimewa. Kuahnya terbuat dari campuran garam, terasi, cabe dan air hasil rebusan ikan pindang! Hiiyaaa… apa gak amis tuh?! We’ll see…

Rujak Kuah Pindang

Tampilan rujak kuah pindang ini bener-bener cakep! Warna-warni dari buah berpadu dengan warna merah menyala dari kuah sangat menggugah selera. Dari tampilannya saja saya sudah merasakan kesegarannya. Begitu kuah dicicip, yang terasa adalah gurih dan manis bercampur, menjadi soulmate yang serasi. Diakhiri dengan rasa clekit-clekit pedes di lidah.

Begh, makanan ini sangat cocok dinikmati di siang yang terik seperti saat itu sodara-sodara! Asemnya mangga muda, kedondong, jambu air dan nanas dikombinasikan dengan segarnya mentimun, manisnya bengkuang ditambah pula dengan gurihnya kuah pindang menjadikan makanan ini kaya rasa. Tenang saja, bagi yang antipati di awal, kuahnya memang berasal dari rebusan ikan pindang, namun rasa amis dari pindang gak bakal terasa menyengat, percaya deh… Satu pesan saya, bagi yang gak suka pedes, mending bilang dari awal ke ibu penjual. Saya yang belum pernah makan ini sebelumnya, memesan tanpa syarat apapun. Dan ternyata, kuah yang saya terima bener-bener pedes! Awalnya sih gak ngefek, karena saya juga suka makanan pedes, eh lama- kelamaan lidah terasa terbakar! Bibirpun terasa tebal dan keringat otomatis bercucuran. Sebotol teh dingin belum cukup untuk meredakan panas cabe.

Bulung

Rujak kuah pindang berhasil masuk dalam list makanan favorit saya di Bali. Selanjutnya masih ada bulung di hadapan. Sebelas – dua belas dengan rujak kuah pindang, bulung ini juga menggunakan kuah yang sama. Hanya saja, buah-buahan digantikan dengan rumput laut. Ya, komposisi bulung adalah dua jenis rumput laut (putih dan hijau), kedelai goreng, parutan kelapa dan disiram dengan kuah pindang. Rasanya?! Seperti makan rumput! Hahaha… Semuanya krenyes-krenyes, dari rumput laut sampai butiran kedelai. Kalau makanan yang satu ini didominasi dengan rasa gurih.

Nah, sudah mengenal dua kuliner Bali yang lain bukan?! Jadi tidak ada salahnya, ketika kamu melintas di Denpasar, singgah ke Warung Rujang Gelogor ini. Lokasinya tepat berada di depan Puri Agung Darmadi, Denpasar. Sampai saat menulis ini dan melihat foto yang ada, iler saya tetep netes tak terbendung, hahaha… Salam kuliner! :-D

 

Warung Rujak Gelogor

Jl. Bukit Tunggal No. 27, Denpasar, Bali

Jam operasional 10.00 – 18.30 WITA

Harga rujak kuah pindang dan bulung @ Rp 5.000,00

Tags: , ,

Author:Andreas Setiawan

Seorang banker yang doyan makan, hobi ngayap dan bengong-bengong bego menikmati sunset.

8 Responses to “Rujak Kuah Pindang : Unpopular Balinese Cuisine”

  1. September 20, 2012 at 11:08 AM #

    salam kenal yah bro.. suka banget sama blog kuliner.. sangat menginspirasi saya :)

    • September 20, 2012 at 6:34 PM #

      salam kenal balik masbro, terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat… :-)

  2. September 20, 2012 at 2:12 PM #

    Sluurrrpppppp ngiler bener ndreee, gue penggemar apapun yg berbau-bau rujak. Tapi bener deh gak amis ya???? irisan buah-buahannya juga menggoda selera banget… asem gue bener-bener ndredes ilerrrrrrr

    • September 20, 2012 at 6:39 PM #

      hahaha… kagak! Malah hasil dari rebusan pindang itu menambah cita rasa, makin gurih cuy! :-D

  3. September 20, 2012 at 2:18 PM #

    In Malaysia, rujak disebut rojak. hehehe. potongan nipis-nipis ya? berbeda sekali dgn Malaysia. akan coba bila pergi Bali lagi. =)

    • September 20, 2012 at 6:41 PM #

      Rujak ini berbeda dengan rujak buah yang ada di Pulau Jawa. Kalau di Jawa, biasanya potongan buahnya besar-besar :-D. Yes! You must try this one when you come to Bali… Recomended! :-)

  4. November 23, 2012 at 3:12 PM #

    saya belum coba euy,, -,- pedas ga yaaa,, :D

    • November 23, 2012 at 6:53 PM #

      mending bilang di awal kalo gak pengen pedes, kalo gak bilang ya bernasib sama kek saya :)

Leave a Reply